MPASI dan Baby-Led Weaning

Hoooossshhh… Maafkan atas hibernasinya blog ini πŸ˜€ Pekerjaan yang menyita waktu membuat kami menghabiskan weekend untuk bermain bersama Zooey dan kahirnya blog ini terbengkalai.

Horeee… Zooey baru aja lulus ASI eksklusif (ASIX) 6 bulan dan sekarang sudah mulai mencicipi makanan. Ga kerasa yah, rasanya baru kemarin lahiran. πŸ˜€ Dua bulan sebelum lulus ASIX, saya mendengar istilah Baby-Led Weaning (BLW) di grup Whatsapp. Karena saya penasaran apa itu BLW, saya mulai cari-cari informasi di internet apa sesungguhnya makhluk BLW ini. Googling sana-sini akhirnya saya nongkrongin web yang berisi tentang BLW.

IMG_3639

Untuk menunjang pengetahuan *tsailah* tentang BLW ini akhirnya saya minta dibelikan buku BLW yang karangan Gill Rapley dan Tracey Murkett yang berjudul, Baby-Led Weaning, The Essential Guide to Introducing Solid Foods and Helping Your Baby to Grow Up a Happy and Confident Eater. Berhubung kalau beli hardcopy datengnya bisa sebulanan, akhirnya Tuan membelikan saya versi ebook. Yuk mari kita baca buibu!

Jadi apa sih BLW? BLW ini gampangnya adalah metode pemberian makanan ke bayi dengan cara membiarkan bayi memakan sendiri makanannya. Dengan metode BLW, kita membiarkan bayi untuk belajar makan jika lapar, dan berhenti kalau sudah kenyang. Nggak ada tuh yang namanya disuap-suapin dan diminta habisin makanan yang sudah kita letakkan di hadapannya.

IMG_1681

Selain itu, metode BLW ini langsung mengenalkan makanan rumah yang biasa dimakan oleh anggota keluarga, tapi dengan catatan, makanan yang dimakan adalah makanan yang sehat dengan gizi yang cukup. Makanan dipotong atau dibentuk supaya bisa dipegang oleh si bayi (finger food), jadi tidak ada bubur, puree atau nasi lembik. Kalo kata buku, dengan metode BLW akan membuat bayi mengenal apa itu lapar dan kenyang. Ga ada yang namanya drama pilih-pilih makanan karena sudah terbiasa sejak kecil untuk memakan berbagai jenis makanan yang dihidangkan.

IMG_1680

Trus makannya gimana dong? Kan ga disuapin, kalo makan sendiri kan belom bisa, kan akan berantakan, kan… kan… kan… πŸ˜† Yah namanya juga masih 6 bulan yah, baru juga mau mulai makan, belom bisa dong nyendokin makanan ke dalam mulutnya. Jadi awalnya bayi akan makan dengan tangan, dari umur 4 bulan biasanya bayi sudah mulai belajar untuk memegang benda-benda yang bisa diraih dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Jadi untuk awal-awal, makanannya masih untuk mainan, dipukul-pukul, digigit-gigit terus dilepeh, diusap ke muka, dilempar-lempar, yang pasti berantakan sih πŸ˜€

Di buku dijelasin hal-hal lain yang cukup detail, misal tips dan trik memulai BLW, gizi yang seimbang, makanan yang harus dihindari, alergi, makanan yang harus diolah terlebih dahulu, dan sebagainya.

IMG_3634

Setelah membaca setengah buku dan speed-reading bab-bab selanjutnya :D, sampai juga kami di kelulusan ASIX Zooey dan kami menerapkan metode BLW. Sembari berjalan, ada beberapa hal yang kami langgar, seperti memulai memberinya makanan 2 minggu sebelum 6 bulan sekali sehari dengan tujuan memperkenalkan makanan, menyuapi potongan-potongan kecil makanan yang tidak bisa dipegang Zooey, memberikannya ayam dan salmon πŸ˜€ Iya, kami tidak akan memaksakan menerapkan BLW, kami mengikuti saja bagaimana kondisi yang ada. Selama hampir 2 minggu ini puji syukur Zooey makan dengan lahap, dan terlihat senang ketika makan sendiri. Pernah sekali kami harus menyuapi karena memang sedang dalam perjalanan, dia tidak terlihat senang seperti biasanya :(.

Buat kami, BLW bukan sekedar membiarkan Zooey makan sendiri, tapi kami harus menyiapkan menu yang akan dimakannya supaya gizinya tercukupi, ya walaupun hanya rebus-rebus ditambah unsalted butter dan/atau goreng-goreng dengan minyak zaitun. πŸ˜€ Mudah-mudahan dengan metode ini pola makan Zooey lebih baik dari kami, dan juga menularkan pola makan sehat ini ke anggota keluarga lainnya. πŸ™‚

Untuk Studio Ghibli

Tadi pagi sempat dikejutkan dengan kabar bahwa Studio Ghibli akan ditutup. Setelah beberapa jam kemudian ada berita lagi yang bilang rumah produksi itu tidak akan tutup tapi akan melakukan strukturisasi dan penataan ulang supaya Studio Ghibli tetap jalan. Mudah-mudahan berita terakhir itu benar dan Studio Ghibli kembali berproduksi.

Untuk itu kami mau nyemangati om-om disana dengan foto-foto Zooey ini.

DSCF6946

DSCF6982

DSCF6998

DSCF7107

DSCF7108

DSCF7119

DSCF7155

DSCF7171

DSCF7178-2

い぀も 頑弡って ね!

Proses Kelahiran Zooey

Yay! Hari ini tepat 1 bulan umur Zooey Eleonora Batubara, putri kami tercinta. Ga kerasa ya, rasanya baru kemarin menikah, hamil, eh tau-tau udah lahir :’) Berhubung waktu saya sudah agak luang karena terbantu dengan kehadiran suster di rumah, saya menyempatkan diri untuk berbagi sedikit cerita bagaimana proses kelahiran Zooey. Oiya, sebelum saya menceritakan proses kelahiran Zooey, saya mau bercerita sedikit tentang keputusan saya memilih untuk melahirkan normal dengan metode water birth di rumah.

Selama masa kehamilan, saya banyak sekali melihat video-video proses melahirkan di youtube. Sampai suatu ketika saya menemukan video melahirkan di kolam air di rumah. Video-video yang saya temukan merupakan video-video proses melahirkan yang terjadi di luar negeri terutama di negara barat. Berbekal video ini, mulailah saya membaca berbagai artikel tentang water birth dan kemudian menemukan juga artikel tentang gentle birth. Semakin banyak membaca, keinginan saya semakin kuat untuk melakukan persalinan senyaman mungkin untuk saya dan bayi saya. Beruntungnya saya bisa dipertemukan dengan Bidan Erie. Beliau merupakan bidan yang membantu persalinan dengan menerapkan gentle birth dan water birth. Saya menemukan nama beliau di website bidan Yesie yang juga menerapkan proses persalinan yang sama. Setelah beberapa kali pertemuan yoga dan relaksasi di klinik bidan Erie, saya pun memutuskan memilih bidan Erie untuk mendampingi saya pada saat persalinan.

Senin, 10 Maret 2014
Jam stengah 5 pagi saya sudah bangun dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Hari sebelumnya kami menginap di apartemen, jadi boleh bangun agak siang sedikit dibanding berangkat dari rumah di Sentul, hihihi… Pagi itu ketika saya akan mandi, saya melihat ada flek yang keluar dan menempel pada celana dalam saya. Melihat ini saya langsung membangunkan Tuan dan memberitahunya, β€œAku flek nih, kayaknya mau lahiran deh. Soalnya kemaren kan dokter Budi bilang tanda-tandanya ada flek salah satunya.” Tuan yang awalnya masih setengah tidur pun langsung bangun dan bertanya harus bagaimana. Awalnya Tuan menyarankan untuk memeriksakan ke dokter namun saya akhirnya memutuskan tetap berangkat ke kantor untuk submit cuti, karena saya belum submit cuti melahirkan. Saya memang berencana untuk cuti pada minggu ke 39 kehamilan saya, supaya saya bisa memiliki waktu cuti lebih banyak setelah melahirkan. Di perjalanan menuju kantor, saya menghubungi bidan Erie dan memberitahu bahwa saya akan ke kliniknya setelah saya beres mengurus cuti di kantor.

Selesai urusan cuti, saya langsung menuju klinik bidan Erie. Sesampainya disana bidan Erie pun melakukan cek dalam. Bidan Erie mengatakan bahwa sudah mulai terjadi pembukaan namun baru seujung jari. Saya diminta untuk menunggu satu jam supaya beliau bisa observasi kontraksi yang terjadi. Satu jam berlalu, kontraksi baru terjadi satu kali. Bidan Erie mengatakan saya boleh pulang karena pembukaan masih sangat kecil dan kontraksi masih belum sering dan teratur. Saya diminta menghubungi beliau jika saya mulai merasakan kontraksi 10 menit sekali. Saya dan Tuan pun pulang ke rumah. Hari itu kontraksi terjadi beberapa kali, namun masih belum sering dan teratur. Saya terus melakukan β€œgoyang inul” dan melakukan pelvic rocking menggunakan gymball untuk membantu memicu kontraksi dan pembukaan.

Selasa, 11 Maret 2014
Baby Z masih anteng di dalam, flek masih keluar namun kontraksi masih jarang. Mama yang sudah datang hari senin sore mengajak saya untuk jalan pagi sambil belanja bahan makanan di tukang sayur yang mangkal di posyandu komplek rumah saya. Hari itu berlalu tanpa kemajuan yang signifikan. Selain jalan, goyang inul dan pelvic rocking, saya juga mencoba induksi alami dengan makan buah nanas.

Rabu, 12 Maret 2014
Menjelang subuh saya sudah terbangun, kontraksi mulai terasa dibanding hari sebelumnya, perut tidak lagi kencang seperti kontraksi palsu tapi mulai mules seperti menstruasi hari pertama. Saya merasa sepertinya baby Z mulai bersiap untuk bertemu kami. Saya pun mulai menghitung kontraksi yang terjadi menggunakan aplikasi di handphone. Saya kembali ikut mama jalan pagi ke tukang sayur, setelah itu jalan bolak-balik di dalam rumah dan carport ketika kontraksi datang.

Jam 14.00 saya pun bilang ke Tuan bahwa kontraksi sudah datang 10 menit sekali, dan akhirnya Tuan pun menelpon bidan Erie supaya datang ke rumah. Jam 15.00 bidan Erie dan asistennya Mba Ririn sampai di rumah dan langsung melakukan cek dalam. Beliau mengatakan bahwa saya sudah pembukaan 3, beliau memperkirakan baby Z lahir setelah maghrib. Tuan mulai memompa kolam yang akan digunakan untuk persalinan, mama pun mulai merebus air untuk air hangat yang akan digunakan.

DSCF0303

Kontraksi masih terus terjadi, namun setiap kali datang, saya berusaha untuk tetap tenang dengan melakukan pelvic rocking. Selain itu bidan Erie dan mba Ririn memijat titik-titik accupressure untuk membantu mengurangi rasa sakit dan menginduksi secara alami. Di sela-sela kontraksi yang datang dan pergi, saya masih bisa cengengesan ngobrolin essential oil sama bidan Erie dan mba Ririn, selain itu juga saya masih bercanda dengan teman-teman saya di grup WhatsApp.

Jam 18.00 bidan Erie kembali melakukan cek dalam, beliau bilang bahwa sudah pembukaan 5 menuju 6. Kontraksi yang datang semakin hebat. Saya tidak kuat lagi melakukan pelvic rocking. Yang saya lakukan hanya tiduran menyamping dan melakukan nafas panjang mencoba merasakan gelombang yang terus datang dan pergi. Kolam pun mulai diisi dengan air hangat, bidan Erie mengatakan bahwa saya akan masuk ke kolam pada saat pembukaan 7. Tak lama kemudian saya merasa ada suara β€œpop” kecil kemudian saya merasa kain yang saya gunakan untuk membalut tubuh saya basah. Bidan Erie mengatakan bahwa air ketuban saya rembes.

DSCF0317

Sekitar jam 19.00 (ini versi orang rumah karena saya sudah tidak fokus untuk mengetahui jam berapa) akhirnya saya masuk ke kolam. Awalnya saya bersandar ke dinding kolam dan kepala saya bersandar pada Tuan. Saya pun mulai menggoyangkan pinggul saya di dalam air untuk mengurangi rasa sakit. Karena merasa tidak nyaman dengan posisi bersandar, saya pun mengubah posisi saya menjadi bertumpu pada lutut, dengan kaki dilipat. Mama dan mama mertua saya sudah khawatir dan bolak-balik bertanya pada bidan apakah tidak apa-apa jika posisi saya seperti ini, karena mereka tidak pernah mengetahui jika posisi melahirkan boleh seperti ini. Ini yang saya suka dari gentle birth, saya bebas memilih bagaimana posisi saya saat melahirkan, tidak ada intervensi dari bidan atau dokter harus dikasih ini-itu, tidak ada perintah kapan harus mengejan, tidak ada perintah harus bernafas bagaimana.

DSCF0331

Ketika pembukaan sudah lengkap, kepala baby Z mulai keluar sedikit demi sedikit. Rasa sakit luar biasa saya rasakan pada saat crowning, dimana sebagian besar kepala bayi mulai terlihat. Bidan Erie terus mengingatkan saya untuk melakukan nafas panjang, dan menyemangati saya bahwa saya bisa menyelesaikan ini. Beliau juga menyuruh saya untuk memegang kepala baby Z yang sudah terlihat, rambutnya banyak! ^_^ Setelah memegang kepala baby Z itulah semangat saya kembali bangkit, sakit memang, tapi saya harus bisa menyelesaikannya. Tak lama kemudian saat gelombang kontraksi datang, saya melakukan nafas panjang dan baby Z pun lahir.

Pada saat lahir, baby Z langsung naik ke atas dan saya pun menangkapnya dengan tangan saya sendiri. :’) Baby Z lahir dengan satu lilitan tali pusat. Tak lama ia menangis, dan saya letakkan di dada saya. Bidan Erie dan Mba Ririn pun menyelimuti kami dengan handuk, membersihkan wajah baby Z dan menghisap cairan dari mulutnya. Setelah itu kami pindah ke tempat tidur untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Setengah jam kemudian plasenta pun lahir. Tali pusat baby Z tidak langsung dipotong saat itu juga, kami memutuskan untuk melakukan delayed cord clamping (penundaan pemotongan tali pusat) supaya baby Z bisa beradaptasi dulu di dunia barunya, keesoka harinya tali pusat diputus dengan cara dibakar. Setelah plasenta lahir, Bidan Erie memeriksa ternyata ada robekan pada perineum selebar satu ruas jari, jadi tidak memerlukan banyak jahitan. Bidan Erie mengatakan bahwa robekan terjadi pada saat bahu baby Z keluar. Setelah saya selesai IMD dan dijahit, baby Z dibersihkan dengan handuk, tidak langsung dimandikan. Kemudian ditimbang dan diukur berat dan panjang badannya.

DSCF0341

DSCF0350

DSCF0343

DSCF0338

DSCF0359

IMG_1710

DSCF0391

Zooey Eleonora Batubara, lahir di 38 minggu, Rabu, 12 Maret 2014, jam 20.10, dengan berat 3kg dan panjang 48cm. It was amazing! Melahirkan di rumah sekarang ini sangat jarang terjadi, tapi saya berani untuk mengambil keputusan itu. Jika diberikan kesempatan melahirkan lagi, saya sudah pasti akan kembali memilih melahirkan di rumah selama Tuhan mengizinkan. Oh ya arti nama Zooey: universe, dan Eleonora: the shining one.

DSCF0434

DSCF0501

DSCF0377

Oiya, menurut orang rumah, sepanjang proses persalinan saya tidak berteriak sama sekali, hanya ada rintihan-rintihan kesakitan yang muncul. Buat ibu-ibu yang akan melahirkan, semangat yaaaa!! Jangan pernah takut akan rasa sakit yang datang karena tidak ada melahirkan yang tidak sakit, tapi bagaimana kita bisa me-maintain rasa sakit tersebut.

Sekian cerita proses kelahiran Zooey, semoga Zooey akan selalu mengingat proses kelahirannya ini dan menjadi anak yang bersinar di alam raya seperti arti namanya. Cheers πŸ™‚

Selamat 1 bulan, Zoeey!

 

-Nyonya-