Sabtu Bersama Bapak

Entah sudah berapa lama saya tidak lagi sering membaca buku, novel sih lebih tepatnya. “Gelombang” karya Dewi Lestari (Dee) adalah buku terakhir yang saya baca. Jika Dee tidak menulis “Gelombang” mungkin saya tidak bisa mengingat apa buku terakhir yang saya baca. Saya tidak tahu mengapa saya tidak lagi sering membaca buku. Saya berusaha mengingat-ingat apa pemicunya, tetapi tidak juga menemukan jawaban.

Kemarin saya iseng mampir ke toko buku, berputar-putar di area novel, melihat-lihat judul-judul pada cover buku yang sekiranya bisa menyalakan “api” yang bisa membuat saya kembali membaca. Mata saya pun hinggap di satu buku yang sebenarnya sudah sering terdengar di telinga saya karena beberapa teman sudah membacanya. Terlebih lagi, saya kenal dengan istri penulisnya. Sok kenal sih lebih tepatnya *towel teh Ninit Yunita*. Akhirnya saya putuskan untuk membelinya. Beli lho ya, bukan numpang baca di toko buku seperti yang sering saya lakukan waktu SD dulu. Iya, dulu saya segitunya sama baca, tapi karena uang jajan mepet jadilah ya numpang baca di toko buku sambil berdiri pun saya jalani.

gambar diambil dari suami gila.com

gambar diambil dari suamigila.com

Belum apa-apa buku ini sudah membuat saya menangis. Bagian awal yang menceritakan bahwa sang Bapak telah meninggal membuat saya menitikkan air mata. Ya, membaca atau mendengar cerita tentang kehilangan seseorang selalu membuat saya sedih. Saya mengakui masih ada secuil rasa yang tinggal di hati saya, dan selalu siap sedia mengusik emosi ketika bersinggungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kehilangan (seseorang). Tapi tenang, cuma 1 halaman kok yang bikin mewek, sisanya saya habiskan membaca dengan tersenyum.

Novel ini menggambarkan bagaimana seorang bapak berusaha untuk menjadi bapak terbaik bagi anak-anaknya dan suami terbaik bagi istrinya. Walaupun sang bapak meninggalkan Satya dan Cakra sejak kecil, namun mereka tidak pernah kehilangan sosok seorang bapak berkat video-video yang telah disiapkan bapak untuk menemani mereka di setiap Sabtu sore. Novel ini juga menceritakan tentang bagaimana video-video tersebut kemudian menjadi pegangan pada saat Satya dan Cakra menjalani hidup mereka.

Buat saya novel ini asyik, bahasanya yang ringan dan disisipi dengan jokes yang kadang garing tapi tetep bikin senyum-senyum pas baca membuat saya pengen berhenti. Beberapa pesan tentang pola asuh anak yang ada di dalam buku ini lumayan membuat saya tersentil. Pesan-pesan yang membuat saya harus memecut diri untuk terus banyak belajar dalam mendampingi suami dan anak saya.

Terimakasih kang Adhitya Mulya *sok kenal lagi* untuk novel yang berhasil membuat saya mulai *lagi* membaca buku dan menulis di blog. 🙂

Pasang Pohon Natal!

Tahun ini memang spesial, segalanya menjadi pertama buat kami sebagai keluarga. Natal yang pertama ini juga tidak akan kami lewatkan untuk didokumentasi dan inilah hasil dekorasi pohon natal kami di tahun 2013.

Sttt.. tahun depan bakal ada yang ikut bantu masang juga lho 😀

Ps: Pohon ini dipasang Senin, 8 Desember kemarin tapi baru sempet ngedit.